Walaupun lagi musim hujan, kami berempat berkeras hati mendaki Pusuk Buhit, dan bisa. Aktivis LSM Dian Sinaga bisa tertidur pulas di puncak. Abidan Simbolon bisa ber-SMS mesra dengan kekasihnya. Hayun Gultom bisa takut pada pekatnya malam. Saya sendiri bisa-bisanya menulis, "Terus, gua mesti bilang 'wow', gitu?"
Setelah memarkirkan sepeda motor, berjalan kaki selama tiga jam menuju puncak Gunung Pusuk Buhit, di jalan kami berpapasan dengan beberapa warga Kecamatan Sianjur Mulamula. Mereka membawa air suci mual ni Ompung dari Tala, dan tanaman berbiji saesae.
"Kalian dari Koran Toba, ya?" tebak salah satu dari mereka. Dijelaskannya, saesae biasanya direbus, dan airnya dipakai untuk mandi atau diminum.
Persis di kolam Tala, 30 menit sebelum puncak tertinggi Pusuk Buhit, kami bertemu dengan dua perempuan dan dua lelaki dewasa. Di bawah hujan gerimis, seorang dari mereka menggendong bayi yang saya taksir berusia dua setengah tahun. Seorang lelaki memanggul kompor masak.
"Kami dari Kisaran. Ini mau pulang," katanya, "Tadi malam kami sudah bermalam di puncak."
Di atas batu besar di lokasi Tala, kami melihat tiga lembar foto terwalak. Salah satunya foto pria dengan tulisan namanya plus "calon Bupati Taput". Ada juga beberapa jeruk purut dan berbatang-batang rokok Gudang Garam Merah.
Selama pendakian, gunung berkabut tebal. Jarak pandang hanya berkisar 20 meter. Jalan tanah dan berbatuan licin. Meski memakai jaket antihujan yang baru kami beli dari Butik Dame di Kota Pangururan, tubuh saya dan Hayun Gultom basah kuyup. Ternyata mempan hujan. Maklumlah, kami membelinya di toko "buruk otik, harga dame".
Kami tiba di puncak pukul lima sore. Kabut di mana-mana. Deru angin menerpa pepohonan, suaranya bagai bisikan makhluk antah berantah. Eksotis!
Kemah kami yang ala kadarnya berdiri di sisi situs Parsaktian Pusuk Buhit. Batu keramat yang telah dipugar itu adalah tempat Guru Tatea Bulan dan istrinya meninggalkan putra sulung mereka, Raja Uti, untuk diserahkan kembali kepada Mulajadi Nabolon.
![]() |
| Saya meliput ke air terjun Batu Sawan, lokasi Raja Uti diasingkan ibunya sebelum kemudian diserahkan kepada Mulajadi Nabolon di puncak Pusuk Buhit. Foto: Abidan Simbolon/Koran Toba |
Sebelum hari benar-benar gelap, ehem!, ini waktunya untuk makan. Kami bersemangat membayangkan menu nasi bungkus yang dibeli Hayun Gultom. Tapi, ampun beribu ampun, cuma ada empat tumpukan "nasi kucing" dan sejumput ikan teri bersambal untuk dibagi berempat.
"Bah, kok, cuma ini isinya?" kata Hayun. Ia salah memesan dari warung.
Di puncak Pusuk Buhit, gunung yang sakral bagi orang Batak, kami bisa bertelepon dengan keluarga dan teman. Di sana ada sinyal ponsel, walau kadang timbul tenggelam. Abidan Simbolon, reporter magang Koran Toba yang masih lajang, bercakap-cakap dan berkirim SMS dengan pacarnya.
"Malam, Hasian. Lagi apa?" tulis pacarnya.
"Lagi kedinginan aku. Posisiku di puncak Gunung Pusuk Buhit. Mendaki, Nang," jawab Abidan. Ia menyapa pacarnya dengan kata sayang "Inang".
Aktivis LSM Dian Sinaga, sebelum lelap dalam tidurnya, mengatakan bahwa pasangan kekasih yang bersama-sama naik ke puncak Pusuk Buhit diyakini akan berjodoh.
"Ya, benar," kata Hayun Gultom, lalu berseloroh, "Agnes Monica pun teman kita ke sini, pasti jodoh."
Wah, terus, gua mesti bilang "wow", gitu?
Walau kami acap bergurau selama berkemah di puncak Pusuk Buhit, kami tetap menjaga sikap dan menakzimkan situs yang sakral itu.
Sebelum tidur, saya teringat akan kedua anakku nun jauh di sana. Dan saya bersyukur kepada Yesus Kristus, Allah SWT, dan Mulajadi Nabolon. [www.korantoba.com]






Twitter @spa_si Ayat setakat 140 leter
Twitter @ja_rar Ciak "sesat"
Google Plus Beragam topik plus
Facebook Bukan Status #galau
MenulisKalimat.com Tata bahasa praktis
Google.co.id Si mahatahu