Postingan

BAHASA JURNALISTIK

Gambar
Bahasa jurnalistik dalam majalah Tempo dan pers siber Tempo[titik]Co ibarat anak berbakat dan anak kemarin sore. Yang pertama masih terawat meski takparipurna, sedangkan yang kedua makin gawat kayak bahasa blog pribadi "inilah viral news".

Proposisi pertama masih masuk akal, tapi yang kedua? Buset! Ihwal mistik—hal gaib dalam sistem religi—dijadikan kesimpulan atas hipotesis medis, dan dengan kata modalitas "pasti" pula. He, dr. Tompi, kuliah lagi sana! Jangan bikin malu dosenmu.

Kebenaran ada di mana-mana. Kebenaran bukan semata-mata milik oknum. "Kebenaran HANYA milik Tuhan" bukanlah kebenaran.

*twit acak dari Twitter Jarar Siahaan (@ja_rar)

YTH KAU

(sepucuk surat pendek)
Yth. kau Aku memberimu otak, tetapi mengapa kau begitu bodoh? Mulai sekarang kau harus bergiat pakai otak. Sekian.
Salam,
Tuhan

BERDOALAH JIKA "TERPAKSA" Mintailah Tuhan hal-hal yang paling penting saja, jangan cengeng, karena konon Tuhan pun punya skala prioritas.
Jarar Siahaan

SUARA KETOLOLAN

Sebenarnya ketololan bisa diedit. Yang sulit diedit ialah kemalasan berpikir kritis, berpikir skeptis.
Suara yang keras tidak sama dengan suara yang tegas. Orang pandir bicara keras, sedangkan orang pandai bicara tegas. *pandir: bodoh
Membaca belum tentu memahami. Melihat belum tentu mengetahui.
—Jarar Siahaan

SARJANA KUTU BUKU

X: Aku ini berpendidikan tinggi, Bos, dan aku kutu buku. Selama kuliah bacaanku tergolong berat, seperti buku-buku filsafat, politik, sejarah dunia…Y: Oh ya?X: Iya, Bos. Tapi setelah berhasil jadi sarjana, ternyata sulit dapat kerja. Kemudian aku berbisnis kecil-kecilan dan sekarang sudah mulai menghasilkan. Semuanya karena buku yang kupinjam dari kawan, satu buku tipis tentang kiat beternak ayam.—Jarar Siahaan

AGAMA, HARTA, KUASA

Politikus memperalat agama demi kuasa, bukan demi warga. Rohaniwan bermain politik demi harta, bukan demi surga. Si dungu tidak sadar-sadar juga!
Bodoh karena agama Jangan sampai gara-gara tabiatmu yang mahadungu itu orang lain jadi keliru menilai agamamu sebagai sumber kebodohan.
—Jarar Siahaan